in vi·no ve·ri·tas
Ino menyesap anggur merah yang Itachi tuangkan ke dalam gelasnya, rasa manis dan pahitnya cairan tersebut menjadi satu kemudian mengalir begitu saja ke kerongkongannya. Kalau boleh pilih, Ino sebenarnya lebih suka untuk minum sesuatu yang menyegarkan untuk menmani nya di tengah malam musim panas. But wine is not bad either way.
Lantunan musik sendu menemani keduanya yang belum bersuara karena masih sibuk dengan gelasnya masing-masing. Sebelum Ino bergabung dengan Itachi di sofa, lelaki itu sudah menyalakan piringan hitamnya untuk memberikan nuansa yang terkesan sendu namun terasa cukup romantis. Perfect for a pair of lover. Sayangnya, mereka tidak termasuk ke golongan tersebut.
Tiba-tiba Itachi tertawa, menjadikannya sebagai yang pertama untuk bersuara.
Ino menoleh ke samping kanan nya karena merasa heran. “What’s wrong? Ada yang lucu?”
“Ada,” Itachi ikut menoleh ke arah Ino dan membalas pandangan perempuan itu. “It’s funny how years ago, Harumi was created in this factory.”
“Pabrik?? Yang bener aja, Itachi!” perempuan itu meringis dengan pilihan kata yang Itachi gunakan. Pabrik, katanya. Sangat konyol. “Tapi kamu nggak salah sih. Lucu juga kamu bawa dia stay di rumah ini untuk liburan, the house where she was created. Apa sih sebenernya intensi kamu?”
“Rumah ini sudah saya beli. Masa iya kita nginep di tempat lain.”
“HAH??”
Ino terkejut karena setelah bertahun-tahun, dia baru tahu kalau rumah yang dulu disewakan sebagai airbnb ternyata sudah Itachi beli.
“Sebentar lagi Harumi ulang tahun yang ke limabelas. Saya jadi ngerasa sedikit nostalgia, kangen sama momen di rumah ini mungkin.”
“Kangen? Seakan-akan momen itu berarti banget sampai kamu kangen gitu.”
“Momen itu memang berarti Ino.”
Sepasang netra Ino mengerjap mendengar penurutan Itachi, sebab kalimat itu disampaikan dengan sebuah magis yang membuat sekujur tubuhnya terasa meremang.
“Lebay ah. It’s not like you were in love with me or something.” Ino berusaha sesantai mungkin ketika menyampaikan kalimatnya meskipun di dalam hatinya, dia merasakan debaran yang amat kuat.
“Kata siapa?”
“Hah?”
“Ino, lihat saya,” kedua lengan perempuan itu sudah berada di cengkeraman tangan Itachi yang mengunci pergerakan tubuhnya. “Who said that I wasn’t in love with you?”
Dalam jarak kedua wajah yang sangat dekat, Ino bisa merasakan hangatnya hembusan nafas milik lelaki yang ada di depannya. “Aku rasa kamu sudah mabuk, Itachi. You better sleep now.”
Itachi tidak menyetujuinya ketika Ino bilang dia mabuk. Penolakannya lelaki itu tunjukan dengan sebuah dominasi supaya membuat Ino sadar bahwa perkataannya tidak main-main. Itachi lantas menarik Ino ke atas pangkuannya dan membuat perempuan itu memekik.
“Itachi!”
“Kamu pernah denger yang namanya love at first sight kan, Ino? Mungkin kedengerannya klise, tapi itu betulan terjadi sama saya. I was in love with you, since then. Sejak aku kejar kamu yang kabur karena nggak mau dijodohin dan akhirnya—I found you hiding in this house.”
Ino berusaha mencerna apa yang barusan dia dengar. Banyak sekali yang dia tangkap ke otaknya, namun perempuan itu masih menolak untuk percaya kalau Itachi menyampaikan kebenaran. Sebab ada satu pertanyaan besar yang muncul dan ingin sekali Ino ketahui jawabannya.
“But why, Itachi? If you were in love with me, kenapa kamu setuju waktu aku minta cerai?”
Sepasang manik legam Itachi terlihat sendu dan rapuh, Ino sama sekali tidak menemukan tatapan lelaki itu yang biasanya didominasi oleh kepercayadirian.
Itachi menjatuhian kepalanya di perpotongan leher mantan istrinya, menghirup kuat-kuat aroma yang dirindukannya. “I feel guilty. Aku merasa bersalah karena selama lebih dari sepuluh tahun, aku sudah merenggut kebebasan kamu. Kamu sudah terjebak sama aku buat waktu yang lama. Maaf… Maaf.”
“Ya Tuhan… I thought you hated me.” dengan sekuat tenaga Ino mengiggit bibirnya supaya suaranya yang bergetar tidak terdengar oleh Itachi. “Itachi, coba gantian kamu yang lihat aku.”
Waktu Itachi mengangkat lagi kepalanya, dia menemukan sepasang cerulean yang masih bergetar.
“Itachi, kamu pikir kenapa aku baru minta cerai setelah terjebak sama kamu lebih dari sepuluh tahun? no—dua belas tahun to be exact.”
Lelaki itu menggeleng sebab tidak menemukan jawaban.
“Karena selama itu kamu ada di samping aku dan Harumi. Dan selama itu juga, aku mulai lupa gimana rasanya hidup aku waktu sebelum ada kamu.”
Kehidupan rumah tangga memang pelik, apalagi ketika masing-masing pihak menyembunyikan sudut pandangnya dari satu sama lain. Itachi dan Ino memang cenderung kurang terbuka mengenai apa yang mereka rasakan. Itachi yang canggung dan super sibuk sehingga terkesan sulit untuk dijangkau, sedangkan Ino sendiri yang juga sibuk merasa gengsi dan percuma untuk menunjukan apa yang dia rasakan sebenarnya.
Kurangnya komunikasi membuat mereka berdua terasa jauh.
Namun tidak untuk malam ini. Itachi memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya dan menjemput bibir Ino dalam satu ciuman dalam yang setiap belaiannya diselimuti oleh kerinduan.
Itachi tidak tahu sejak kapan tubuhnya bisa bermanuver sacara otomatis untuk menggendong tubuh ringan Ino dan berjalan menuju kamar tidurnya. Dan sontak, lengan Ino langsung mengular di leher lelaki itu. Keduanya masih belum melepaskan tautan bibir mereka.
Karena kebutuhan akan oksigen, dengan terpaksa bibir keduanya mengambil jarak barang beberapa inchi namun mereka masih bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
Setelah Itachi berhasil menempatkan Ino di permukaan ranjangnya, lelaki itu bertanya. “Nggak apa-apa kan kalau malam ini Harumi tidur sendirian?”
“No problem. Harumi is a big girl now.”
“Good.”