lilymagicals

Agenda terakhir acara reuni diisi dengan makan malam. Mereka singgah di salah satu restoran untuk mengisi perut setelah selesai foto studio. Seperti biasa, agenda makan berjalan dengan suasana hangat sampai menu yang disajikan tersantap habis.

Shikamaru beranjak dari duduknya setelah meminum habis sisa cocktail yang ada di gelasnya. Namun entah kenapa, pergerakan cowok itu justru mengundang tanya bagi teman-teman lainnya.

“Mau kemana Shik?” tanya Kiba

“Ke depan.”

“Sebat?”

“Yoi.”

“Ikut lah gue.”

Waktu Kiba hendak ikutan berdiri, Shikamaru justru menahan cowok itu supaya nggak mengikuti nya. “Eh nggak, lo di sini aja.”

Kiba jadi semakin bertanya-tanya, “Kenapa dah??”

Kemudian Chouji angkat bicara sambil tertawa, “Itu Shikamaru mau ke depan, bayar bill.”

“Loh kenapa Shikamaru yang bayar?? Kan biasanya kita semua juga split bill?” Tenten bertanya sambil ikutan bingung.

Memang benar ketika mereka masih ada di bangku kuliah, untuk urusan bayar makanan pasti biayanya mereka tanggung masing-masing, kecuali memang ada special occasion baru salah satu dari mereka akan mentraktir.

Namun kali ini agak berbeda, Shikamaru pikir nggak ada salahnya kalau dia yang membayar semuanya, toh cowok itu sudah bekerja dan punya sedikit uang lebih untuk mentraktir teman-temannya. Sedikit di sini bukan secara harfiah nominalnya bill mereka betulan sedikit ya, apalagi mereka sedang berada di restoran fancy yang kalau kata Chouji sih pernah direview sama chef dan f&b specialist yang namanya Kode Biru.

“Waduh ceritanya gentleman ya, Shik. Anti split bill.” kata Sai menimpali.

“Split bill aja udah lagian dari awal nggak ada yang bilang mau traktir.” sahut Neji.

“Ya makanya ini gue bilang, santai aja lah.” kata Shikamaru menaikan bahunya.

“Ih jangaaan.”

“Daripada bingung mending gue aja kalau gitu.” Sasuke mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada waiter supaya dibawakan bill meja mereka.

“Eits!” Naruto mencengkeram tangan Sasuke, membuat pergerakan cowok itu terhenti. “Aduh gue bingung banget, ternyata kalian udah beneran pada dewasa sampai rebutan bayar gini!”

Kalimat Naruto disusul dengan kekehan teman lain nya yang sedang geleng-geleng kepala.

“Gini aja deh biar seru…” sambungnya sambil menyeringai. Bukan Naruto kalau cowok itu nggak iseng dengan ide-ide di kepalanya yang quirky, “Yang berkenan boleh keluarin kartu kredit atau debit kalian, kumpulin di sini, terus diacak. Habis itu biar waiter atau waitress yang pilih secara random kartu siapa buat bayar makan kita kali ini.”

OH MY GOD THIS IS GOING TO BE SO FUN!” Ino memekik, cewek itu ikut buru-buru mengeluarkan salah satu kartu miliknya dari dompet dan diserahkan ke Naruto.

“Anjir si Naruto. Tapi boleh lah, ini punya gue.” seru Sai.

“Hadeh, ada-ada aja.” Shikamaru melempar kartunya ke tengah meja, di mana beberapa kartu lain sudah diletakan.

Sakura kembali mengingatkan, “Yaampun guys, inget ya ini buat yang berkenan aja. Yang enggak ya nggak usah ikut-ikutan.”

“Naruto yang kasih ide berarti harus ikut keluarin kartunya juga nggak sih?” giliran Hinata yang berbicara sambil menggoda Naruto.

“OH JELAS DONG.”

Ketika beberapa kartu dari berbagai bank yang berbeda sudah terkumpul, Naruto mengacak kartu-kartu tersebut dan memanggil seorang waitress yang kebetulan standby di dekat meja mereka.

“Mbak, tolong pilih satu kartu yang ada di sini, random ya!”

Waitress tersebut terlihat bingung dan ragu-ragu untuk beberapa saat, sehingga dia pun bertanya untuk memastikan. “Ini betulan, Kak?”

“Betul mbak, pilih aja bebas yang mana.” jawab Neji yang tetap duduk anteng di kursinya.

“Oh iya, baik kak.”

Tangan waitress tersebut kemudian meraba kartu-kartu yang ada di depannya dan mengulang gerakan tersebut beberapa kali. Sampai ketika waitress tersebut pada akhirnya menarik sebuah kartu, di situ lah riuh tepukan tangan langsung terdengar.

“WADUUUUUH.”

“HAHAHAHA.”

“INI BLACK CARD AMEX PUNYA SIAPA?? HAHAHA.”

Si pemilik black card tersebut merasa malu sendiri mendengar sorak dan tepukan tangan dari teman-temannya, padahal harusnya mereka bereaksi biasa saja.

“Aduh! Congrats sayangku!”

Sakura meraih pipi si pemilik black card untuk dikecup singkat, yang mana pemiliknya tidak lain tidak bukan adalah Sasuke.

Setelah Sasuke melakukan payment, mereka semua merapikan barang-barang bawaan pribadi karena agenda makan bersama telah usai.

“Sedih banget sekarang kalau mau ketemuan harus tentuin tanggal, padahal dulu hampir setiap hari bisa ketemu.” Ino mengerucutkan bibirnya setelah selesai mengoleskan liptint sebagai ritual touch up wajib sehabis makan.

“Tapi meskipun begitu, jangan lupain satu sama lain ya guys. Kalau ada kabar baik atau apapun itu jangan sungkan untuk share di grup!” Sakura menimpali sebagai upayanya untuk menjaga tali pertemanan mereka supaya tidak renggang.

“Iya bener, ya meskipun sekarang kita udah sibuk sama kerjaan masing-masing, tapi kalo grup nya rame tuh jujur seneng banget.” ujar Naruto.

“Mungkin gak semuanya bakal bisa respon, tapi pasti tetep ada lah orang-orang chronically online kaya Naruto yang responsif banget.” Shikamaru melanjutkan, sambil tersenyum miring dan mendapat acungan jempol dari teman yang namanya disebut.

“Kalau pengan kumpul juga gas lah cuy, nggak harus full team kan. Ya maklum lah, toh kita masih bisa catch up lewat manapun meskipun nggak ketemu langsung, ya kan?”

Pertanyaan Kiba diberi afirmasi dengan beberapa kepala yang mengangguk, pertana setuju.

Ketigabelas pemuda dan pemudi berjalan bersama, keluar dari restoran ke lahan parkir di mana kendaraan mereka akan mengantar menuju kepulangan.

“Ini pulang nya aman semua? Ada yang perlu tebengan?” tanya Neji.

“Gue! Anterin ke stasiun MRT aja.” kata Tenten angkat tangan.

Sedangkan permintaan cewek yang masih setia mencepol rambutnya menjadi dua itu membuat Hinata menggelengkan kepalanya. “Nanggung banget Tenten, sekalian minta anter Kak Neji sampai kos aja. Lagian searah kan?”

Tenten sendiri menggaruk pipinya yang nggak gatal, “Iya sih. Tapi kos baru gue kan harus masuk ke jalan sempit gitu, sungkan.”

“Sungkan sungkan kaya sama siapa. Yuk lah.” kata Neji final.

“Ino, pulang sama gue?”

Pertanyaan Shikamaru yang dilempar untuk Ino membuat cewek itu merasa canggung. Ditambah dengan pertanyaan Sai selanjutnya.

“Bukannya tujuan pulang kalian itu sama ya?”

Ino semakin nggak tahu harus menjawab apa.

“Shik, gue nggak bawa kendaraan. Gue bareng lo sama Ino ya!” untung saja, ada Chouji yang menyelamatkan Ino dari ketidaknyamanannya, perkara pulang kemana, akan cewek itu pikirkan nanti saja. Shikamaru pun mengiyakan permintaan Chouji.

“Yaudah nanti soft-file foto studio tadi sama yang lainnya gue compile ke gdrive terus share di grup ya.” ujar Sai ketika yang sudah bertengger di motor nya.

Sambil mengangkat tangan membentuk salam hormat, Rock Lee menjawab dengan semangat yang masih belum padam, “Siap!”

“Jangan kelamaan share nya.” timpal Sasuke.

Shino menjadi yang pertama mengucap pamit, sebab setelah ini dia masih ada agenda lain untuk dilaksanakan. “Hati-hati di jalan guys, gue duluan ya.”

Kepergian motor Shino diiringi dengan lambaian tangan dan seruan dari Sakura yang mengingatkan teman-temannya, “Kalau udah sampe rumah kabarin di grup!”

Maka di sini lah mereka semua kembali berpisah, pulang ke tempat masing-masing. Kepulangan yang berarti kembali ke realita, kepulangan yang berarti mereka harus merelakan kalau reuni kecil-kecilan ini telah berakhir, kepulangan yang berarti akan memakan waktu luang mereka dengan diisi oleh kesibukan, kepulangan yang menandakan grup whatsapp mereka akan kembali sunyi.

Pelaksanaan inaugurasi pengurus baru HIMAHI harusnya dimulai dalam sepuluh menit kedepan, namun Shikamaru dan tamu undangan lainnya belum diberi instruksi untuk memasuki ruangan tempat akan dilaksanakannya prosesi inaugurasi. Bahkan Shikamaru dan keduabelas teman lainnya masih bersantai makan dan nyebat sambil berceloteh di kantin FISIP yang mereka rindukan ini.

Keterlambatan memang hal biasa, apalagi untuk negara Konoha yang sumber daya manusia nya identik dengan budaya ngaret. Namun hal itu nggak membuat Shikamaru berhenti memantau situasi. Cowok itu sempat ngechat di grup dewan pengawas organisasi dan bertanya apakah mereka sudah boleh masuk ke ruangan inaugurasi, tapi nggak ada jawaban yang didapatnya dari perwakilan pengurus baru HIMAHI.

“Ini kita ke aula nya kapan? Udah jam sepuluh lewat loh.” Sakura melirik arloji nya, sebagai orang yang terbiasa tepat waktu, jelas cewek itu bakal bertanya-tanya.

“Gue belom dapet kabar dari anak-anak, tunggu aja lah sampe dikabarin.” balas Naruto.

Di sisi lain, Kiba menanyakan suatu hal yang mustahi. “Kalo ternyata acara nya udah mulai tapi kita kagak diajak gimana??”

“Ya kalau gitu ngapain kita diundang peleh.” jawab Shino sambil nggetok kepala temannya.

“Coba ada yang cek ke sekre…” kata Hinata melihat situasi yang nggak pasti ini.

Shikamaru menarik rokoknya dan membuang sisa yang masih setengah ke asbak. Dia berencana buat melakukan usulan Hinata, walaupun sebenarnya malas, tapi kalau nggak dilakukan, takutnya ada sesuatu yang terjadi. “Gue cek deh.”

“IKUT! Gue pengen jalan-jalan.” Naruto mengejar Shikamaru yang sudah jalan duluan. Di belakangnya, Sasuke ikut mengekor tanpa bilang apapun, meninggalkan teman-teman lain yang masih stay di kantin.

Ketiganya menerobos lapangan FISIP untuk menuju gedung departemen Hubungan Internasional, di mana ruang sekre mereka ada di lantai dua. Tapi dari bawah, mereka bisa melihat kalau area depan sekre masih ramai, artinya pengurus baru HIMAHI juga belum menempati aula FISIP sebagai tempat inaugurasi.

“Hadeh gimana ini bocah-bocahnya aja belom ke aula? Katanya mulai jam sepuluh kan??” Naruto mulai menggerutu setelah melihat sekre yang masih ramai.

“Coba tanya ke itu tuh.” Sasuke menunjuk seorang perempuan yang baru saja keluar dari ruangan kantor dosen. Cewek itu memakai jaket himpunan, jadi bisa dipastikan kalau dia adalah salah satu pengurus baru HIMAHI.

Shikamaru berjalan mendekat ke adik tingkat cewek itu waktu dia akan menaiki tangga untuk kembali ke sekre. “Sorry, Sumire ya?”

Cewek itu menoleh, sedikit terkejut waktu mendapati tiga cowok kakak tingkat nya, “Kak Shikamaru! Halo iya kak ini Sumire. Ada yang bisa dibantu, Kak?”

“Inaugurasinya kenapa belum dimulai ya? Udah ngaret hampir dua puluh menit.”

“Aduh oh… Itu…” Sumire terlihat nggak tenang, cewek itu merasa panik karena beberapa hal. “Maaf kak, sebenernya lagi ada masalah administrasi sama venue nya.”

“Masalah administrasi? Surat peminjaman? Sekretaris nya siapa?”

“Saya kak. Surat peminjaman aula FISIP nya hilang.”

Pantas saja kalau Sumire panik, ternyata masalah yang katanya sedang terjadi ini berhubungan dengan cewek ini. Nggak lama kemudian, Sumire menjawab panggilan yang masuk ke ponsel nya. Kalimat yang disampaikan oleh rekan Sumire di sambungan telefon justru membuat cewek itu semakin pucat.

“Kak Shikamaru maaf saya harus pamit ke sekre dulu, ada miskom. Maaf ya kak, nanti LO untuk angkatan Kak Shikamaru bakal nyamperin kok.”

“Bentar, di aula ada siapa aja?”

“Kalau nggak salah ada Sarada, saya pamit ya kak. Mari Kak Shikamaru, Kak Naruto, Kak Sasuke.”

Setelah Sumire pamitan, cewek itu langsung berlari menaiki anak tangga menuju ke sekre. Sedangkan, Shikamaru, Naruto, dan Sasuke memilih untuk pergi ke aula untuk memantau situasi lebih lanjut.

Namun situasi yang Shikamaru dkk lihat sesampainya di area aula justru membuat dahi mereka bertiga dikerutkan. Di sana ada adik tingkat berkacamata yang ketiganya kenal, Sarada, sedang terpojok oleh segerombol anak cowok yang mengenakan jaket himpunan dari departemen sebelah.

Kalau dilihat dari jauh sih, situasinya sedang nggak baik-baik saja. Bisa dikatakan situasinya cukup tegang. Shikamaru, Naruto, dan Sasuke belum berniat untuk menginterupsi. Sampai sesuatu yang membuat ketiganya geram sehingga mereka sudah nggak bisa diam lagi. Bahu Sarada terlihat didorong cukup kencang oleh salah satu cowok yang entah siapa namanya itu.

Sasuke langsung menghampiri kerumunan itu dan berhasil mencengkeram satu tangan yang hampir saja dilayangkan ke arah Sarada yang memasang badan tanpa tersentak.

“Sorry, ini area kampus dan nggak sepantasnya lo main tangan.” kalimat dingin Sasuke lolos dari mulutnya, jangan lupakan cengkeraman tangannya yang membuat anak cowok itu meringis.

“Woy lepasin, lo siapa? Kaga usah ikut campur bisa bisa gak lo??”

“Lo anak himpunan mana sih?” Sasuke semakin mengencangkan cengkeraman tangannya waktu cowok di hadapannya mencoba untuk melawan. Dia juga membalikan cowok itu untuk melihat tulisan departemen di bagian punggung jaket himpunan cowok itu. Sasuke berdecak setelah memastikan dari departemen mana cowok tengil ini berasal. “Pantesan. Nggak berubah ya. Departemen kalian masih anarkis, seperti biasa.”

“Lepasin anjing.”

Sesuai permintaan, Sasuke melepas cengkeraman tangannya dangan kasar, sampai cowok dari departemen [redacted] tersebut sedikit tersungkur.

“SARADAAAA. KAMU GAPAPA??” Naruto dengan heboh ngecek kondisi Sarada yang kemungkinan lumayan terkejut, meski air muka adik tingkat yang akan segera dilantik menjadi ketua HIMAHI ini cukup tenang.

“Aku nggak apa-apa kok, Kak. Maaf ya ada keributan.”

Shikamaru yang tetap tenang kemudian mencoba meminta klarifikasi atas kegaduhan yang barusan terjadi. “Ini kenapa ya? Kenapa Sarada dipojokin gini?”

“Kahim cewek ini yang gak becus ngurus acara. Harus nya himpunan kami yang pake aula ini duluan buat inaugurasi!” salah satu cowok lain dari himpunan departemen sebelah menunjuk Sarada secara meremehkan.

“Lo tunggu dulu ya setan! HIMAHI udah dapet izin dari sarpras fakultas buat pake aula ini jam sembilan pagi sampe tiga siang!”

Sarada yang daritadi cuma diam akhirnya bersuara juga, lumayan ngegas pula. Sampai Naruto dan Shikamaru sempat cengo sebentar.

“Yaudah mana coba gue liat surat izin lo!” cecar cowok itu lagi.

“…..”

Namun kali ini, Sarada nggak bisa membalas cecaran cowok dari himpunan departemen lain itu.

Shikamaru menaikan sebelah alisnya, kemudian bertanya dengan sedikit berbisik. “Surat izin kalian mana?”

“…. Hilang kak.” jawab Sarada.

“Kok bisa hilang? Siapa yang terakhir pegang?”

“Kadep Operasional Kak, waktu dia lagi beres-beres ruangan ini, suratnya dipegang dia.”

Naruto yang mendengar percakapan tersebut ikut nimbrung, “Kadep operasional siapa emang??”

“Kawaki.”

“Pffftt.” Muka Naruto yang sudah asem duluan waktu mendengar lagi-lagi bagian operasional yang bermasalah, jadi makin asem waktu tau siapa nama kepala departemennya.

“Departemen operasional kapan bener nya sih??” Sasuke menimpali.

Shikamaru memutar bola matanya. Dia jadi teringat jaman kepengurusannya, sama seperti ini—Kiba sebagai kepala departemen operasional juga langganan menghilangkan beberapa sirat izin peminjaman yang cukup penting.

“SARADAAAAAAA.”

Teriakan seseorang yang cukup melengking itu terdengar di sekitar area aula. Sarada tanpa repot-repot sudah tau siapa yang memanggilnya dengan nada seperti itu. Cewek itu memijat pelipisnya sebentar, merasa pusing karena di hari pertamanya akan resmi menjadi ketua himpunan, sudah banyak saja huru-hara yang terjadi.

“SARADA SURATNYA UDAH KETEMUUUU.” sebuah kepala kuning berjenis kelamin laki-laki muncul dari entah arah mana sambil membawa sebuah amplop yang diangkat oleh tangannya tinggi-tinggi. Kemudian di belakangnya, ada Kawaki sebagai pelaku utama masalah yang terjadi, dan beberapa mahasiswa mengenakan jaket himpunan HIMAHI seraya menyusul. Selain anak-anak pengurus baru HIMAHI, beberapa alumni juga mulai terlihat di pelataran aula.

“BORUTO NGGAK USAH BIKIN GADUH!” Sarada menjitak kepala kuning Boruto waktu cowok itu sudah ada di depannya untuk menyerahkan surat izin.

“Nggak usah pake bumbu jitak!” protes Boruto.

“Tenang Sarada, tenang.” Mitsuki tersenyum saja melihat temannya dijitak oleh Sarada dan mencoba menenangkan cewek itu meskipun entah mempan atau nggak.

“Sorry banget Sar, ternyata ini surat sialan ketinggalan di kos gue.” ucap Kawaki dengan penuh penyesalan.

“Lo tuh yang sialan! Ada-ada aja sumpah. Yaudah buruan mulai mobilisasi alumni ke aula, habis itu kita mulai inaugurasi nya a s a p.”

“Siap!”

Ketika tim nya mulai melakukan mobilisasi, Sarada langsung menghampiri segerombolan cowok dari himpunan sebelah dan menyerahkan surat izin milik HIMAHI. Cewek itu didampingi oleh Shikamaru dan Sasuke yang sebetulnya nggak perlu, tapi mereka cukup penasaran.

“Ohhh ini sih HIMAHI duluan yang dapet izin. Liat aja tuh tanggalnya.” Shikamaru menunjuk bagian pojok kanan bawah surat izin HIMAHI. “Ditandatangi tanggal 13, sedangkan punya jurusan sebelah baru tanggal 15 di acc.”

Sarada tersenyum jumawa waktu melihat cowok-cowok himpunan sebelah nggak bisa berkutik. Kemudian cewek itu menunjuk satu persatu dari mereka dan menuntut sesuatu yang sudah sepantasnya dia dapatkan, “Minta maaf lo semua sama gue!”

Di samping Sarada, Sasuke tersenyum miring melihat keberanian adik tingkatnya yang patut diacungi jempol. Sedangkan Shikamaru, dia yakin HIMAHI akan berjalan dengan baik di bawah kepemimpinan Sarada.

“Kib kata gue elu diem deh!” Naruto berusaha mengeluarkan dirinya dari situasi yang sedang cowok itu hadapi sekarang.

Semenjak Kiba menjadi yang datang paling awal di antara teman-temannya yang menyusul ke kafe untuk nongkrong, Naruto ditahan oleh temannya itu untuk mendengar penjelasan panjang lebar dengan harapan cowok itu tergiur dengan apa yang Kiba tawarkan.

“Heh kata gue elu yang diem! Sini anteng dulu dengerin penjelasan gue.” Kiba sendiri nggak mau kalah, dia menahan kedua bahu Naruto yang semula berniat beranjak dari duduknya.

“Hadeh ujung-ujungnya lo pasti mau jualan kan! Gimana sih bukanya temu kangen malah jualan lu!” protes Naruto bersungut-sungut.

“Ini namanya memanfaatkan opportunity. Tapi niat gue sih beneran mau ngebantu lo Nar, bukan sekadar jualan. Kan enak gitu kalo lo buka polis asuransi, hidup lo bakal tenang sampai meninggoy deh gue jamin.”

Naruto sudah mendengarnya puluhan kali, sampai hafal malahan bagaimana teknik rayuan Kiba supaya dia mau membeli produknya. “Gue udah punya asuransi anjir Kib, barengan sama Ayah Bunda gue!”

“Lo kan sekarang udah kerja tuh, buka polis asuransi sendiri lah! Gak bakal rugi sumpah, karena ini asuransi jiwa dan bakal kasih keluarga lo proteksi sampai bahkan setelah lo meninggoy. Kalo lo meninggoy, Hinata bisa dapet duit!”

Cowok berambut pirang itu sontak melotot, bukan hanya karena perkataan Kiba soal ‘what if kalau dia meninggoy, tapi juga karena nama Hinata dibawa-bawa. “KENAPA JADI HINATA YANG DAPET DUIT??”

“Ya kan nanti kalo lo berdua udah nikah, kemungkinan Hinata yang jadi ahli waris! Kan dia istri lo!”

“BUSET PELAN-PELAN PAK SOPIR!!”

Hinata—yang tadinya masih berusaha fokus untuk mengetik tesis nya, tertawa mendengar percakapan tersebut dan langsung mengubah laptopnya ke mode sleep untuk bergabung ke obrolan teman-temannya.

“Tapi Kiba, kamu udah dapet berapa M dari bisnis asuransi ini?” cewek itu bertanya karena murni penasaran.

Di sisi lain, Sai yang tangannya masih lihai menari di layar iPad kemudian ikut bertanya, “Iya tuh, berapa M? Kalo gue liat di tiktok katanya income nya bisa sampe 2M sebulan.”

“Dua em nya bukan makasih mas tapi ya, Sai?” timpal Chouji sambil tertawa ringan, sedangkan Sai ikut nyengir saja.

Kiba mengambil cangkir kopinya yang isinya tinggal setengah, kemudian menjawab dengan nada yang terdengar lesu, “Yakali, income gue belum sampai segitu lah. Dapetin nasabah aja masih susah banget ini.”

“Namanya juga hidup, yang penting cari duitnya nggak haram.” seperti biasa, Neji memang selalu terdengar yang paling bijak. Lelaki bersurai panjang yang sekarang berkarir sebagai penulis itu menepuk bahu Kiba.

Semenjak kelulusan mereka dari universitas kurang lebih dua tahun yang lalu, mereka memilih jalur tempuh yang berbeda-beda untuk melanjutkan karir dan hidup.

Kebanyakan sih mereka nggak berkarir di bidang yang sesuai dengan apa yang mereka pelajari di sewaktu kuliah. Memang bukan rahasia umum kalau lulusan Hubungan Internasional ini cukup sulit mendapat pekerjaan karena satu dan lain hal.

Misalnya saja, Kiba memilih berkarir di industri Asuransi. Naruto, karena dia punya koneksi orang dalam—bisa bergabung di sebuah partai politik yang menaungi Ayah nya sebagai anggota dewan. Banyak dari mereka yang nggak menyangka Naruto bakal terjun ke politik, tapi kata cowok itu sih yang penting nggak nganggur sambil menemani Hinata kuliah S2. Toh saat ini lingkup kerjanya masih di seputar tim sosial media atau branding.

Sai sendiri hidupnya nggak jauh-jauh dari design, dia baru saja diterima kerja di menjadi designer di salah satu perusahaan game developer. Shino yang semenjak kuliah rajin melakukan riset, bekerja di lembaga tink-tank yang mana kemampuan riset cowok itu bakal diperas.

Kalau Sasuke, dia punya kesempatan untuk bekerja di perusahaan automotive, tapi akhir-akhir ini sering mengeluh bosan dan ingin resign ke pacarnya. Sakura—sedang melanjutkan karirnya untuk menjadi diplomat muda. Chouji dan Tenten masih merintis bisnis F&B nya masing-masing.

Yang menurut mereka paling ekstrem adalah Rock Lee, dia menjadi pelatih Muay Thai di sanggar milik Baba nya—well, sebetulnya nggak ekstrem karena mereka tahu cowok itu punya passion di bidang tersebut. Bahkan Rock Lee semangat banget waktu bercerita kalau salah satu muridnya adalah adik tingkat mereka, namanya Metal, yang biasa dipanggil Mamat.

Jujur saja—nggak ada yang berubah dari mereka, mereka hanya telah tumbuh menjadi lebih dewasa dan lebih lelah.

“Huuuuft, kalau dipikir-pikir ya jaman kuliah dulu capenya ga seberapa ya dibanding sekarang.” celetuk Tenten.

Adulting sama working life emang capek. Tapi kayaknya kalian ini masih keliatan cukup waras lah. Kecuali yang itu tuh, lagi kurang waras kayanya.” Sakura menghela nafasnya dan menunjuk seseorang yang duduk di posisi paling ujung dengan dagunya.

Naruto geleng-geleng kepala melihat penampilan acak-acakan seseorang yang tadi ditunjuk Sakura, “Buset pak! Dari tadi lo diem aja ternyata lagi enak ngisep!”

Seseorang yang dimaksud tersebut adalah Shikamaru, dia baru saja menyelesaikan batang kelima rokoknya semenjak sampai di kafe tersebut empat puluh menit yang lalu. Sekarang, cowok itu sedang mengisap panjang batang keenamnya, kemudian asapnya dia kepulkan di udara. “Santai-santai dulu lah.”

Beberapa orang yang ada di sana jadi bingung. Shikamaru terlihat lebih kurus dari biasanya, penampilannya kusut, bahkan Chouji tahu kalau mantan kahim nya itu sudah kira-kira lebih dari tiga hari nggak shaving sebab rambut halus di janggut nya mulai terlihat menumbuh. Padahal kalau mereka pikir, pekerjaan Shikamaru sebagai budak korporat perusahaan rokok terbesar di Konoha nggak seburuk itu. Cowok itu punya pendapatan yang cukup fantastis untuk seumuran mereka. Bahkan mereka semua sepakat Shikamaru itu emang udah paling cocok bekerja di industri rokok, mulutnya saja sudah dia sulap sendiri jadi cerobong asap.

Tapi bukan karena masalah pekerjaan mengapa Shikamaru terlihat kusut, melainkan kejadian setahun yang lalu masih menghantui cowok itu. Semua temannya juga tahu apa yang Shikamaru alami itu nggak mudah, tapi mereka nggak menyangka hal itu akan memberikan efek jangka panjang yang sepanjang ini buat cowok itu.

“Shik, lo kaya hidup segan mati tak mau.” Sai asal nyeletuk dengan entengnya, seperti nggak ada beban hidup saja. Bukan tanpa alasan sebenarnya Sai bilang begitu, melihat bagaimana Shikamaru bisa menghabiskan dua bungkus rokok dalam sehari.

“SHIKKK JANGAN MENINGGOY DULU KITA BELUM PUAS PARTY BARENG”

“Astaghfirulloh.”

Shikamaru hanya membalasnya dengan sebuah seringai miring, tanpa mengambil hati celetukan teman-temannya. Selanjutnya, cowok itu mengetukan tangannya di meja untuk meminta atensi. “Bentar gue mau ngomong.”

“Apa nih? Kok kayaknya serius.” timpal Sasuke.

“Serius, tapi ya santai sih,” Shikamaru mengangkat bahunya lalu mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di meja, “Ini ada undangan—“

“SHIKAMARU LO MAU NIKAH??” Naruto melompat dari tempat duduknya untuk menghampiri Shikamaru dengan heboh.

Hal itu membuat yang lain ikutan heboh, Sakura memukul meja dengan telapak tangannya cukup keras, “SERIUS?? SHIK?? MARRIED??”

“Kok gue malah nggak tau ya Shik lo ada rencana mau married??” Chouji juga nggak kalah kaget, namun cowok tambun itu lebih ke merasa bingung.

“Nggak mungkin lah gue nikah,” rooftop kafe yang mereka tempati menjadi hening seketika. Shikamaru terlihat memijat pelipisnya, pusing dengan reaksi teman-temannya, “Ini undangan dari himpunan. Kita diundang untuk hadir di acara inaugurasi kepengurusan baru HIMAHI.”

“YAAAAHHHH.” Sontak Sakura, Naruto, dan Chouji yang sempat berdiri pada akhirnya mendudukan diri mereka kembali.

Namun kurangnya reaksi antusias yang Shikamaru dapatkan justru membuat cowok itu bertanya, “Lah? Ini kenapa tiba-tiba pada nggak excited gini??”

“Kayanya temen-temen bakal lebih excited kalau yang tadi itu beneran undangan pernikahan kamu deh, Shik.” sambil tersenyum, Hinata menjawab pertanyaan cowok itu untuk mewakili teman-temannya.

“Ck.” Shikamaru geleng-geleng kepala, nggak heran kalau ternyata teman-temannya masih absurd begini. “Acaranya minggu depan, pada bisa dateng kan?”

Naruto mengacungkan jempolnya, “Berangkat laaah. Eh, ini angkatan si siapa tuh—Boruto ya berarti??”

“Ho’oh.”

“Kahim nya siapa?” tanya Sasuke.

“Katanya sih cewek, Sarada kalau nggak salah.”

“SARADA??” Sakura melebarkan matanya karena terkejut dan tepuk tangan, “Yang dulu jaman ospek katanya pengen jadi Kahim itu kan?? KEREN BANGET.”

Bukan hanya Sakura yang merasa bangga, tapi mereka semua. Sebab baru kali ini HIMAHI memiliki ketua himpunan seorang perempuan.

“Harus berangkat full team sih kita, ini lagi pada di Konoha semua kan?? Bisa lah full team!” Tenten berseru, menantikan kemungkinan adanya reuni di acara inaugurasi HIMAHI minggu depan.

“Ino nggak ada...” kata Shikamaru lirih.

“Eh iyaa, gila udah lama banget gue nggak denger kabar Incess.” timpal Naruto.

Chouji melirik ke arah Shikamaru yang terlihat lebih lesu dari sebelumnya setiap pembicaraan tentang cewek itu naik ke permukaan. Chouji mengeluarkan ponselnya untuk membuka chat room dengan Ino yang mana pesan terakhir nya belum dibalas cewek itu lebih dari dua minggu. “Eh iya nih, gue juga kurang tau kapan dia bakal pulang, coba gue chat lagi Incess nya.”

“Katanya bakal pulang minggu depan, nggak tau hari apa.”

Pernyataan Sasuke barusan langsung membuat semua orang beralih melihat ke arahnya, termasuk Shikamaru yang sekarang sedang menaikkan sebelah alis nya untuk meminta penjelasan.

“Kamu tau dari mana, Sas?” Sakura menyenggol lengan pacarnya, sebab dia juga nggak kalah penasaran dengan kepulangan sahabatnya.

“Dari Itachi.”

Dua kata yang dilontarkan Sasuke lantas membuat sepasang bahu Shikamaru menurun, terlebih setelah mengetahui dari siapa Sasuke mendengar kabar kepulangan cewek itu.

Ino keluar dari shower room kamar hotel yang akan ditempatinya staycation malam ini. Harum segar menyeruak memenuhi ruangan kala cew