Two Sides of a Coin.
Erwin Smith telah menyandang gelar sebagai Captain dalam setiap penerbangan yang dia lalui selama lebih dari satu dekade. Dia merupakan seorang pilot yang berintegritas. Keselamatan penumpang yang dia bawa terbang untuk mencapai tujuan selalu menjadi prioritasnya.
Namun kali ini, Erwin harus mempertaruhkan semua nyawa yang akan dibawanya, tidak untuk sampai ke tujuan, namun untuk mengantarkan mereka menembus ke cakrawala hingga mencapai surga.
Terjatuhnya pesawat akan selalu menjadi kesalahan Pilot, sebab merekalah yang melakukan kesalahan terakhir, dan pilot sulit membela diri atau menjelaskan tindakannya kalau sudah meninggal.
“God… Forgive me for what I’ve sinned.”
Erwin terududuk di deretan bangku paling belakang sebuah gereja yang selalu dirinya singgahi. Setelah kematian ayahnya, Erwin has nothing to lose, bahkan dia tidak takut untuk kehilangan dirinya sendiri. Namun kepentingan politik yang konyol membuat Erwin selalu bertanya-tanya sebab siapa saja bisa membahayakan bahkan menghilangkan nyawa orang lain demi mencapai tujuannya.
Licik. Kotor. Biadab. Keji.
Dia telah mengotori jiwanya dengan politik agar tetap hidup tanpa ancaman dan dianggap loyal terhadap negara—ralat, terhadap keluarga kerajaan yang sama sekali tidak menguntungkan masyarakat negara.
Penerbangan yang mungkin akan menjadi penerbangan terakhirnya akan terjadi esok hari. Kemudian Erwin tersenyum miris, mengingat tidak ada seorangpun yang akan menunggu kepulangannya. Hidup atau mati, tidak akan ada yang bersuka maupun berduka cita untuknya.
“There’s no way back to return, do what you have to do. God will understand and forgive you.”
🕊
Zeke dan Pieck sedang bergumul di atas ranjang, kehangatan yang menyelimuti mereka ditransfer melalui kontak fisik antar kulit keduanya. Pieck yang menyandarkan kepalanya di dada bidang Zeke dan setengah mengantuk itu seketika bangkit ketika merasakan ritme nafas Zeke berubah menjadi berat. Apa yang ditemukan Pieck begitu mengejutkan, Zeke menangis, “Eh? Kamu kenapa kok nangis??” tanya Pieck dengan heran.
Yang ditanya hanya terkekeh singkat dan mengeratkan pelukannya yang melingkari tubuh mungil telanjang milik gadisnya.
“I promise to come home, tunggu aku ya Pieck?”
“Well, well, emangnya kamu pernah sekalipun nggak pulang? Was that promise necessary?”
Zeke tersenyum miris, “Kali ini beda. Oh ya, kamu ngga ada jadwal flight kan?”
Pieck Finger adalah seorang pramugari di maskapai penerbangan yang sama dengan kekasihnya, Zeke Yeager. Pertemuan pertama mereka terjadi ketika keduanya terbang bersama tiga tahun silam. Zeke dan Pieck sama-sama mancintai setiap penerbangan yang mereka lalui, bersama maupun tidak.
“Beda gimana? And nope, aku libur buat seminggu kedepan kok.” jawab Pieck yang semakin merapatkan kepalanya ke ceruk leher Zeke.
“Aku kangen Bunda Dina… It feels like I’m getting closer to my mother every time I fly, you know?”
Tidak ada jawaban dari Pieck, namun gadis itu tahu betul perasaan yang dibawa Zeke ketika terbang, selalu teringat pada mendiang sang ibunda. Namun kali ini, Zeke merasa ragu sendiri. Perjanjian bodoh demi membuktikan loyalitasnya pada negara akan membuat Pieck begitu sedih apabila Zeke tidak berhasil pulang dengan selamat.
“Pieck, janji sama aku buat tunggu aku pulang ya?
Entah sejak kapan Zeke menggenggam cincin yang kemudian disematkan ke jari manis gadisnya. Sambil merapalkan doa, Zeke berharap dia bisa pulang ke pelukan gadisnya, dia yakin Bundanya bisa menunggu kapanpun di atas sana untuk menyambut Zeke ke dalam pelukannya. Yang terpenting baginya sekarang adalah pulang dengan selamat ke pelukan Pieck, kemudian segera menikahi gadis yang begitu dia cintai.